Dalam Lelapmu

Malam ini saya membiarkanmu tidur duluan, sesaat setelah kamu selesai membereskan sisa makan malam yg tadi  kita nikmati bersama diteras kamar tempat kita menginap.

Saya akui, kamu memang hebat dalam segala hal, termasuk dalam  memilih tempat ini. Hotel Umah Gran, dengan posisi kamar menghadap ke alam terbuka, hamparan rumput hijau, ditepinya terdapat lembah dangkal dengan aliran sungai kecil yg mengalir dan aroma embun yg menyengat di pagi hari.  Lokasinya tak jauh dari Desa Ubud,  Pusat Seni  Tradisional di Pulau Bali.

Kita sepakat untuk tidak memilih menginap di Kota Denpasar, karena tujuan kita kesini untuk mendapatkan ketenangan, bukan untuk  having fun dengan suasana Kota Denpasar yg sudah mulai Glamour dengan banyaknya Pub dan cafe, serta suasana pantai yang padat.  Kita disini untuk menikmati keindahan seni.  Seni  Tradisional Bali dan Seni Berbulan Madu, mungkin, hehe.

Oh iya, kembali ke yang tadi, tahu tidak kenapa saya sengaja membiarkanmu tidur duluan ? ini sudah 6 malam bersamamu, tidur sekamar denganmu, dan malam ini   saya hanya ingin melihat bagaimana raut wajahmu saat terlelap. itu saja, meski harus berjuang menahan rasa kantuk yang menyerang.

Lama, Saya memandang wajah lelapmu tadi, raut yang tampak tenang, setenang air pada kolam tempat kita duduk menepi menikmati tarian salah satu sanggar seni di Desa ini tadi sore. Tarikan nafas, wangi rambutmu, hingga butiran keringat yang menetes. – Oh, Suhu udara Air conditionernya tidak terlalu dingin, hingga kamu merasa kepanasan. Untuk hal yang satu ini kita berbeda, kamu senang dengan setelan suhu antara 18-20 derajat celcius, sedangkan saya tidak bisa dengan suhu serendah itu. Tapi  tenang saja, suhunya akan kuturunkan jika sudah  tiba saatnya saya tidur. Bukankah kita bisa menciptakan sendiri suhu udara yang pas buat kita berdua *tiiitttt*.-  Asal kamu tahu , Semua yang ada dalam lelapmu malam ini  terangkai dalam sebuah bingkai keindahan yang luar biasa.

Ini baru 6 hari  kita bersama. Dan Jika Allah meridhoi dan memberi umur yang panjang, kita akan melewati banyak hari, bulan dan tahun-tahun yang tentunya tidak semuanya akan berjalan datar.  Tidak perlu kamu risaukan akan hari esok. Cukup dengan merasa Optimis, yakinlah semua akan berjalan lancar, itu seperti kata para Motivator yang kita follow di Twitter.  Apapun yang terjadi hari esok, Tetaplah berprasangka baik KepadaNYA,  seperti   yg tertulis  dalam Kitab suci, Wahyu Allah yg disampaikan oleh  Nabi kita Muhammad SAW.

Kita  akan jalani bersama. Saya selaku Imammu akan selalu berusaha memberikan yang terbaik dan menjadi nahkoda yang benar untuk mengarungi bahtera rumah tangga kita.  Belajar Menjadi Seperti Ali bin Abi Thalib yang mempunyai cinta yang begitu dalam kepada istrinya Fatimah Az Zahra. dan Insya Allah kelak akan berusaha menjadi seperti Lukman Al Hakim yang penuh akan hikmah untuk Anak-anaknya, meski masih sangat jauh untuk bisa mendapatkan seperempat ilmu hikmahnya.

Mohon  bantuan Doamu agar amanah ini bisa dijalankan oleh suamimu. Amin.

4 Responses to Dalam Lelapmu

  1. setelah bertahun-tahun, akhirnya ini blog diapdet juga…romantisna poeng,wkwk
    selamat k, selamat menikmati hanimun…*uhukk

  2. Wih, romantis nah jadi kepengen juga hehehe, btw ntar klo sy mau update dimana di’ krn blog sdh terblokir,wkwkkwk

  3. kagetka karna tiba2 ada nama Asrul Sani Eka Putra di bloglist-ku yg barusan apdet. saking lamanya sy sendiri sampe lupa kalo sy kasi nama itu untuk namata’ hoahaha…
    Barakallahu lah.. semoga bahagia dan romantis selalu ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s