Sepertinya sudah hampir satu jam saya berhadapan dengan monitor ini, tapi belum tahu mau cerita tentang apa dan harus memulai dari mana. Selain karena tidak ada ide, memang lagi malas sekali untuk menulis. Akhir akhir ini migrain sering kambuh. Mungkin ini pengaruh kafein, sebab sebulan terakhir ini terlalu banyak mengkomsumsi kopi atau mungkin juga karena kurang tidur. Dan Biasanya kalau kepala sedang pening, migrain dan lagi pengen sendiri, saya naik ke rooftop kantor, itupun dengan catatan hari sudah agak sore dan tidak sedang hujan.
Dari atas sana, bisa terlihat dengan jelas hamparan langit biru serta bentangan laut luas yang sedang siap menyambut matahari membenamkan diri dikala senja telah tiba. Meskipun sebenarnya bukan keindahan seperti itu satu2nya yg ingin saya rasakan, tapi dari dulu saya memang suka berada di tempat tempat yang tinggi. Ada kenikmatan tersendiri ketika melihat benda benda yg berada dibawah, ukurannya berubah menjadi kecil. Belajar untuk selalu melihat kebawah mengingatkan saya agar tidak lupa untuk bersyukur.
Tapi sore tadi ketika ingin sendiri, saya memutuskan pergi ke suatu tempat. Di sebuah tepi pantai yang berada agak jauh dari pantai losari. Masih beberapa kilometer ke arah selatan. Pantainya indah, suasananya lumayan tenang dan sepi. Hanya suara ombak dan obrolan dari beberapa orang yang sedang memancing ikan membuatnya terdengar cukup ramai. Akses jalan menuju kesana tidak bagus. Sepertinya hanya kendaraan roda dua yang bisa mencapainya. Karena lokasinya yang agak terpecil ,Jadinya hanya sedikit saja orang yg tahu keberadaan itu tempat.
Saya termasuk orang yang beruntung karena tahu tempat itu. Suatu hari diberitahu oleh seorang teman bahwa disana ada tempat yang bagus, Lebih bagus dari tempat manapun di kota makassar untuk melihat sunset. Karena dari tempat ini mataharinya terlihat lebih besar dikala terbenam dibandingkan dengan beberapa tempat lainnya di kota ini. Proses pergantian shift antara matahari dan bulan akan terlihat sangat jelas dan indah. Dan Sejak saat itu kalau ada waktu luang kami berdua ke sana.
Terakhir kami kesana tanggal 7 bulan lalu, jadi tepat satu bulan sudah. Hari ini saya Kembali datang untuk menikmati keindahannya. Ingin melihat matahari besar itu lagi, ingin melihat orang memancing, ingin melihat kapal kayu, dan ingin melihat awan yang kadang nakal menghalau sinar matahari. Ingin juga merenung, ingin mengenang, ingin menghayal, ingin berpikir, dan intinya ingin sendiri saja. Tidak ingin berdua atau bertiga karena tepat hari ini juga umur saya bertambahnya satu saja, bukan dua.
Duduk diatas batu besar, yang letaknya paling ujung dekat bibir pantai. Mengingat ingat, mencoba intropeksi diri, mengevaluasi 365 hari yang telah lewat. Ada perasaan sedikit kuciwa. Rasa rasanya tidak banyak pencapain yg berarti jika dibanding 1 tahun ataupun tahun tahun sebelumnya. Performance ini tidak beranjak naik. Loncatan loncatan yang saya lakukan tampaknya masih kurang tinggi. Grafiknya maka tampak datar datar saja (atau malah turun ke bawah?) .Kasihan.
Padahal sebenarnya berulang tahun itu bukan berarti hanya sekedar mengulang tahun yang sudah lewat. Perjalanan yang ditempuh selama setahun tidak seharusnya mirip dengan tahun sebelumnya, yang hanya berputar putar disitu saja,tidak ada kemajuan. Dan saya merasa selama satu tahun menuju usia saat ini tidak banyak mengalami perubahan. Barangkali hampir menjadi dejavu yang sempurna. Kejadian kejadian tahun lalu dialami lagi tanpa ada perubahan yang cukup berarti.
Setahun belakangan ini malah kadang melakukan hal2 yang kurang bermanfaat. Tidak sadar kalau ternyata sedang lagi hitam, tak sadar kalau pernah berbelok ke arah jalur yang tidak benar. Tak sadar bahwa para setan pernah bersorak ria untuk saya. Atau mungkin saya juga pernah menjadi badut, tanpa saya sadari. Seperti itulah, melakukan lagi kesalahan kesalahan. Tapi masih untung kalau semua itu adalah kesalahan-kesalahan yang baru.
Usaha yang kurang maksimal,Kemauan yang kurang kuat,Terlalu cepat merasa puas ,ataukah kondisi lingkungan yang selalu melenakan ? Entahlah, Pasti kesemua faktor itu memiliki peran yang berpengaruh. Yang sangat berasa adalah semangat untuk survive yang kadangkala kendor. Tapi semuanya sudah terlambat to ? Seandainya dulu….
Ah, berbicara seandainya tiba tiba mengingatkan saya tentang sesuatu hal yang kurang menyenangkan yang bisa saja terjadi dalam waktu dekat ini. Entah besok lusa atau bulan depan. Saya rasakan “Badai kecil” itu semakin dekat saja. Membuat saya sering berandai andai dalam 3 minggu terakhir ini. Seandainya dulu saya memilih yang satu itu, Hmm…mungkin saya tidak perlu menghawatirkan ini dan merasa takut hal ini akan terjadi, tapi kemungkinan besar saya sudah berada di pulau paling timur Indonesia yang minim informasi dan bertemu dengan Medina Kamil disana. Hehe. Ataukah mungkin jg seandainya saya bertahan di Gedung Putih Slamet Riyadi itu, mungkin saya tidak akan mendapatkan ilmu ilmu baru dan teman teman baru, tidak akan dipertemukan saya dengan seseorang yang biasa menemani saya ke pantai itu.
Sudahlah, pilihan-pilihan itu sudah lewat. Berani memilih berani mempertanggung jawabkannya. Memang sudah seperti ini jalannya hingga saya akhirnya saya disini. Sebuah hadist Baginda Nabi meriwayatkan bahwa “Allah telah menetapkan ketentuan ketentuan atas mahlukNYA 50 tahun sebelum mereka diciptakan”. So ? tidak ada lagi yg perlu dikhawatirkan. Rumusnya simpel. Manusia tugasnya hanya berusaha saja, tapi bukan mereka yg menentukan hasilnya. Biarkan sebuah doa dan kerja yang sungguh sungguh mencoba meniti jalan jalan itu. Silahkan kalau Badai kecil itu mau datang, dan sekali lagi, Let me Go surfing (dengan gaya seekor Bebek lagi?). Saya yakin bisa, karena manusia bukanlah sebuah kaleng minuman yang jika diterpa ombak akan terombang ambing dan akhirnya menjadi sampah di tepi pantai. Apatah lagi jika dia seorang lelaki, jangan cengeng, kecuali ketika sedang bermohon KepadaNYA.
Pasti selalu saja ada cara Tuhan untuk menolong. Kemarin , salah seorang teman (yang tahu sebahagian besar kisah hidup saya) mengomentari status saya di Facebook.com tentang Badai kecil itu. Komentarnya singkat saja, tapi itu cukup jitu. Membuat Seolah olah dada saya digedor gedor untuk segera menumbuhkan rasa percaya diri itu. Bahwa saya mampu dan pernah melewati kondisi yang lebih sulit dan lebih berat. menikmati Badai yang cukup besar. (thanks bro).
Semoga hari ini adalah moment yang tepat untuk berhenti sejenak menarik napas panjang yang dalam dan bersiap berlari kembali. yang lebih cepat pastinya. Biar mendapatkan hasil yang lebih baik dan lebih besar sebesar matahari yang terlihat di senja tadi.
[Awalnya tdk ada niat utk bercerita panjang lebar spti diatas, malah ingin bercerita tentang seseorang dan pantai itu . tp tiba2 saya tidak bisa berkata apa2, jari2 terasa kaku utk bercerita hal2 yg menyangkut tentang dia. Sehingga akhirnya topiknya dialihkan. Lagipula saat ini saya sangat membutuhkan hal2 yg bisa bikin semangat, makanya menulis seperti diatas, hanya utk memotivasi diri sendiri. Jujur, meski sebenarnya masih datang2an rasa sedih dan kekhawatiran itu. Yah. Sudah malam, Saatnya Tidur, jangan lupa cuci kaki, sikat gigi, cuci muka, berdoa dan senyum senyum sebelum tidur. Satu lagi, jangan lupa matikan lampunya. Pelita harapannya tidak usah dipadamkan , biarkan dia tetap menyala selama 24 jam ]
Update 080509 01:03 :
Mata belum bisa tidur, saya teringat beberapa hari yang lalu membaca sebuah buku yang didalamnya terdapat pragraf seperti ini :
Saat bahagia kita kurang berfokus pada diri sendiri, lebih menyukai orang lain, dan ingin berbagi nasib baik kepada siapapun. Sebaliknya, ketika sedih, kita kurang mempercayai orang lain, suka menyendiri, dan berfokus secara defensif pada kebutuhan kebutuhan sendiri. -Martin Seligman-
Saya cukup setuju dengan apa yang ditulis oleh Martin Seligman diatas. -Asrul-
Selanjutnya, Blog ini akan mengalami mati suri untuk jangka waktu yg tidak ditentukan.


3 responses so far ↓
fina // 11 May 2009 at 16:11
kadang2 menyendiri itu sangat menyenangkan
btw kurangi minum kopi ces, ntar migrainnya tambah parah
awi // 30 May 2009 at 19:05
emang bener bgt tuh kutipan dari buku nya, “Saat bahagia kita kurang berfokus pada diri sendiri” tapi saat sedih “kita suka menyendiri dan menarik diri”, aku merasa seperti itu. klo sedih tidak inging berbagi kesedihan, tp klo lg happy aku ingin berbagi ke smua orang.
thanks ya
Seorang Adik // 18 June 2009 at 18:14
Di hari ketujuh bulan kelima…
justru saya ingin tahu cerita “Tentang Dia dan Pantainya”